Kamis, 19 Agustus 2010

Ikhlas Memberi


“Chi, boleh pinjam uang mu nda ? buat bayar sesuatu soalnya pembayarannya terakhir hari ini tapi saya nda punya uang sekarang” pinta teman kampus ku suatu ketika.
“Mm.. bagaimana yah saya punya uang sedikit berlebih hari ini,tapi kamu kan tahu jarak rumahku dari kampus cukup jauh, kalau ku berikan uang ini takutnya ada apa2 di jalan dan saya harus menambah ongkos buat nyampe di rumah. Saya nda suka menyimpan uang yang pas2an”
“Ya sudah, makasih yah”kata nya sambil berlalu dan kulihat ia mendekati teman2 yang lain tapi nampaknya tidak ada yang bersedia memberikannya.
Sebenarnya saya adalah tipe orang yang
agak susah untuk menolak jika ada seeorang yang meminta bantuan. Sambil pura-pura menulis, aku berfikir, kasihan juga teman itu, kenapa tidak ku bantu saja. Bukankan Allah telah mengingatkan kita bahwa Barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya di dunia ,maka Allah akan memudahkan pula urusannya di akhirat. Prinsip itu yang selalu kupegang teguh hingga saat ini.
Akhirnya kupanggil teman itu dan kuberikan lembaran rupiah di dompetku. Yang tersisa hanya biaya transportasi untuk pulang kerumah, pas, nda lebih sedikitpun.  
Ia pun mengambilnya dengan penuh terima kasih, saya pun merasa lega bisa membantunya. Sungguh kebahagiaan itu bukan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan tapi ketika kita bisa memberikan apa yang orang lain butuhkan.
Setelah itu, kebetulan sudah ashar maka sebelum pulang saya sholat dulu di mushallah kampus. Karena kufikir ini mushallah dan orang2 di dalamnya adalah mahasiswa yang notabene kaum intelek, maka dirasa tidak mungkin ada yang berani mencuri. Akhirnya saya pun shalat dengan khusyu’.  Kemudian segera pulang tanpa memperhatikan lagi isi tas yang ternyata dompetku sudah hilang entah kemana.
Saya baru menyadarinya ketika di angkot (Baca: Pete-pete). Hati mendadak gelisah mau bayar pakai apa nih klo turun nda punya uang.. minta sama orang yang tak dikenal juga enggan.  Saya terlihat sibuk sendiri mengoak atik isi tas, mungkin hanya terselip, tapi ternyata dompetku betul betul hilang entah merayap ke tangan siapa. Rupanya ada seseorang yang memperhatikanku.
“Ada apa Dik,?” katanya ramah
“Ini Bu, dompetku hilang”
“Hilang dimana Dik?” Tanya ibu itu bersimpati
(Yee..namanya juga hilang,seandainya saya tahu hilangnya dimana pasti sudah cari di tempat itu..)
“Nda tau juga bu hilangnya dimana,mungkin terjatuh di suatu tempat”  (ya iyalah di suatu tempat, masa terjatuh di suatu waktu )
Akhirnya ibu yang baik hati ini dengan senang hati menawarkan untuk membayarkan sewa angkotnya.
“Trima kasih banyak,Bu” kataku penuh hormat dan syukur.
Alhamdulillah pertolongan Allah memang selalu dekat.
Sesampai di rumah setelah perjalanan 1,5 jam dari kampus. Saya mendapat telfon dari seorang pria tak dikenal.
“Halo, ini dengan Nun Fauziah H.?”
“Iya, ada pa pak, dengan siapa ini”(koq sampai menyebut nama lgkapku pula)
“saya Pak Abdullah ,dosen di Fakultas kedokteran. Apa betul adik kehilangan dompet?”
“iya Pak, betul sekali, dompet warna pink kan Pak. Bapak menemukannya dimana?”
“ kebetulan ada satpam yang memberikannya dia menemukan di tempat sampah sekitaran FK”
(wah, hebat dompet itu bisa nyasar di FK rupanya, apa mungkin sebuah dompet bisa mengetahui kalau tuannya sangat berminat menjadi dokter. Tapi sayangnya dia adanya di tempat sampah,, tapi nda papalah yang penting FK,, hehehe)
“Maaf dik, saya lancang membuka dompetnya untukmencari identitas pemilik”
“Iya Pak, nda papa”
“Tapi,setelah bapak buka,ternyata isinya sudah kosong” 
(Tiba2 teringat dengan uang yang kupinjamkan tadi pada teman, ah syukurlah saya telah meminjamkannya.  jika tidak, saya mendapat 2 kerugian hari  itu : 1. Kehilangan kesempatan membantu orang lain yang membutukan , 2. Uang saya hilang percuma atau menjadi milik orang yang tak bertanggung jawab)
“O..Iya pak,isinya memang sudah nda ada” dengan sedikit malu, masa dompetnya cantik gitu nda ada isinya, heheh.
“O.. iya Dik, tapi ini kartu-kartu d dalamnya  nya masih selamat”
“mm..syukurlah Pak, saya berterima kasih banyak sama Bapak atas kebaikan hatinya”
“Iya Dik, sama2. Besok datang ke kantor bapak di lanatai 1 FK, cari yang namanya Pak Abdullah.
(Apakan bapak ini yang bernama Abdullah Khairul Azzam pembuat bakso cinta yang sedang mencari sosok Anna Althafunnisa??  Heheh.. ngarep)
(bdw, sampai lupa nih buat menagsihani pencuri dompet itu,, sudah mencuri, niatnya salah, nda dapat apa-apa pula. Makanya ni pelajaran buat kleptomania, dan sejenisnya klo mw nyuri yah pilih2 jg, atau sebelum beraksi mesti belajar banyak dulu dari ahinya, hahaha ).
Pelajaran no.1 : membantu orang lain itu sering tak mengenal waktu dan tempat, tak pula memandang keadaan seperti apa kita saat itu. Bahkan pada saat sempit pun kita ternyata masih bisa membantu, intinya adalah keikhlasan karena kita yakin bahwa Allah akan menolong kita selama kita menolong orang lain.
Semangadh ^_^
NB: Terima kasih buat kawan yang waktu itu memberi kesempatan padaku untuk bisa membantunya J






3 komentar:

Anonim mengatakan...

subhanallah. ^_^ maksh nah buat yg punya blog... maksh buat plajarannya...

ibrahim mengatakan...

bagus kisahnya. cuma bahasa penyampaiannya klo bisa d buat lebih baku. jangan d campur pake logat. hahahahha

fauziah_azzahra mengatakan...

@Anonim: Sama2 ^_^ Alhamdulillah klo bermanfaat..
@ibrahim : hhehe namanya jg melestarikan budaya lokal.. ciri khas makassar ewako..:)

Posting Komentar