Senin, 14 Februari 2011

BerhentiLah Disini,,Mencela..

“Ihh,, banyak nya jerawatnya si anu, jeleknya deh mukanya”
“edede,, jangan mako mw sama dia tolo,, kurus skali orangnya kayak tiang bendera ji”
“weh,, bagaya nya itu orang, baru tebal nya ji bibirnya”
mmm…. Itu Hanya contoh kecil saja betapa kita sering terlibat dalam suatu pendiskreditasian manusia. Bukankah kita ini makhluk yang memiliki pencipta yang sama, Allah, dan tentu saja Dia tidak pernah keliru dengan ciptaan-Nya,
Dia yang lebih tahu mana yang terbaik untuk seluruh makhluk yang Dia ciptakan. Analogi, jika kita mencela suatu model pakaian, maka baik secara langsung maupun tidak, kita mencela perancang pakaian tersebut. Nah, apa yang terjadi jika yang kita cea adalah makhluk Allah, dimana kita semua tahu bahwa Dial ah yang menciptakan kita.
Di balik semua itu, Allah merencanakan sesuatu, misalnya ada orang yang memiliki tubuh yang tinggi, eh, ternyata di takdirkan untuk menjadi Kiper Timnas, atau wajahnya mungkin kurang menarik, untuk tidak mengatakannya jelek, eh, ternyata jadi pelawak, kan jadi artis juga, masuk TV juga, terkenal juga, akhirnya bahagia juga dia.  Maha suci Allah dengan sebaik2nya pencipta.
Begitulah kita, manusia, seringkali tak menyadari kekurangan sendiri, tapi kekurangan orang lain, wow,,jangan ditanya, sekecil apapun khilaf dari orang lain, akan mudah diketahui. Maka benarlah kata pepatah “Gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut di seberang lautan terlihat”
Insya Allah akan lebih baik jika berhati2 dari ghibah. Jika ada yang protes, toh,,ini yang kita cerita memang kejelakannya si Fulan, tapi ini benar lho,.. nah,,ini memang ghibah namanya,. Jika yang dicerita adalah kejelekannya dan ternyata itu tidak benar, Fitnah namanya.
Ghibah (Mengumpat/ mencela) adalah salah satu perbuatan yang tercela dan memiliki dampak negatif yang cukup besar. Ghibah dapat mencerai-beraikan ikatan kasih sayang dan ukhuwah sesama manusia. Seseorang yang berbuat ghibah berarti dia telah menebarkan kedengkian dan kejahatan dalam masyarakat. Walaupun telah jelas besarnya bahaya ghibah, tapi masih banyak saja orang yang melakukannya dan menganggap remeh bahaya ghibah.
Akan tetapi,, ada kondisi2 tertentu dimana ghibah itu d bolehkan,,antara lain:
1. Orang yang mazhlum (teraniaya) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut haknya.
Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 148:

"Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa' : 148).

Tetapi walaupun kita boleh mengghibah orang yang menzhalimi kita, pemberian maaf atau menyembunyikan suatu keburukan adalah lebih baik. Hal ini ditegaskan pada ayat berikutnya, yaitu Surat An-Nisa ayat 149:

"Jika kamu menyatakan kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa." (QS. An-Nisa: 149)

2. Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar.
Pembolehan ini dalam rangka isti'anah (minta tolong) untuk mencegah kemungkaran dan mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang hak. Selain itu ini juga merupakan kewajiban manusia untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Setiap muslim harus saling bahu membahu menegakkan kebenaran dan meluruskan jalan orang-orang yang menyimpang dari hukum-hukum Allah, hingga nyata garis perbedaan antara yang haq dan yang bathil.

3. Istifta' (meminta fatwa) akan sesuatu hal.
Walaupun kita diperbolehkan menceritakan keburukan seseorang untuk meminta fatwa, untuk lebih berhati-hati, ada baiknya kita hanya menyebutkan keburukan orang lain sesuai yang ingin kita adukan, tidak lebih.

4. Menceritakan kepada khalayak tentang seseorang yang berbuat fasik atau bid'ah seperti, minum-minuman keras, menyita harta orang secara paksa, memungut pajak liar atau perkara-perkara bathil lainnya.Ketika menceritakan keburukan itu kita tidak boleh menambah-nambahinya dan sepanjang niat kita dalam melakukan hal itu hanya untuk kebaikan.

5. Bila seseorang telah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan di atas agar orang lain langsung mengerti.
Tetapi jika tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai nama lain yang lebih baik, maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain tersebut.Wallahu a'lam bishshawab.(Ibnu Taimiyah, Imam Syuyuthi, Imam Syaukani,, Maktabah Al-Manar, Yordania)
Yang  wajar kita cela yah mungkin  sifat manusia, sombong, kikir, rakus, dsb. Sifat itu pembawaan manusia, dan insyaAllah bisa di ubah, justru Allah sendiri juga mencela yang demikian.
Semoga Allah menjaga kita (Terutama saya pribadi sebagai tukang post note ini )dari sifat suka mencela dan sifat tercela lainnya. Karena semakin kita mencela orang lain, semakin kita mencela diri sendiri dan semakin menunjukkan kekurangan kita sendiri.
Wallahu a'lam bishshawab..

2 komentar:

Ahmad Fauzan mengatakan...

makasih infox

Ahmad Andry mengatakan...

sbelum melihat org lain alangkah lebih bakx melihat diri sendiri sebelumnya ..

Posting Komentar