Rabu, 18 Agustus 2010

POTRET BIDADARI DUNIA*

 
 Diriwayatkan pada suatu har Rasulullah SAW ,memanggil putrinya, Fatimah AZZAHRA .
“Fatimah anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan seorang istri yang dicintai suami?”
“Tentu saja wahai ayahku”
“Tidak jauh dari rumah ini tinggal seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Perempuan itu bernama Muthi’ah. Coba engkau temui dia dan teladani budi pekertinya yang baik itu”

                Fatimah yang selalu patuh segera memenuhi kehendak ayahnya, selain itu ia ingin sekali mengetahui amalan apa yang dikerjakan seorang Muthi’ah sehingga Rasulullah sendiri mengatakannya ebagai perempuan yang baik budi pekertinya. Maka diajaknya lah Hasan, putranya yang masih kecil menuju rumah itu.
                Setelah sampai disana dan meberi salam, hati Muthi’ah gembira bercampur heran melihat tamunya itu adalah Fatimah. Apa maksud kedatangan putrid Nabi besar itu. Setelah Fatimah menyatakan maksudnya, dengan ramah Muthi’ah menyatakan penolakannya.
“Wah, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu ini wahai Fatimah. Namun, maafkan aku, aku hanya dapat menerima kedatanganmu saja. Sesungguhnya suamiku telah beramanat bahwa aku tidak boleh menerima tamu laki-laki jika ia sedang yidak ada dirumah ini.
“Ini Hasan, putraku sendiri , wahai Muthi’ah. Ia kan masih anak-anak” kata Fatimah sambil tersenyum
“Namun sekali lagi maafkan aku, walaupun ia masih kecil, tapi ia laki-laki. Sungguh aku tak berani melanggar amanah suamiku.
Fatimah mulai merasakan keutamaan yang dimilii Muthi’ah seperti kata ayahnya. Ia semakin berminat untuk mengetahui lebih dalam akhlak wanita ini.
“Kalau begitu baiklah Muthi’ah. Sangat kuhargai keteguhan hatimu dalam menjaga amanah suami”
Ujar Fatimah lembut, lalu diantar anaknya pulang.
Tidak berapa lama, ia kembali ke rumah Muthi’ah. Perempuan itu menyambutnya dengan senang hati seraya membimbing Fatimah masuk ke dalam rumahnya.
“Aku jadi berdebar-debar dan bertanya, sesungguhnya apa maksud kedatanganmu kemari,wahai Fatimah?, sepertinya ada hal yang sangat penting sekali, hal apakah itu wahai putri Rasulullah?”
“Memang benar Muthi’ah. Ada berita gembira buatku dan ayahku sendirilah yang menyuruhku dating kemari.”
“Rasulullah? Katakan segera , wahai Fatimah, berita gembira apakah itu”
“Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita yng berbudi baik. Kedatanganku kesini tiada lain adalah ingin meneladani budi pekertimu”
                Hati siapakah yang tidak menggunung bila rasulullah sendiri yang memujinya tentang suatu keutamaan yang dimilikinya.
“Kau sedang bercanda sahabatku, keutamaan apo\a yang kumiliki, aku tidak merasa memiliki suatu keutamaan . aku biasa2 saja seperti yang engkau lihat. Sungguh tidak ada yang perlu kusamapikan kepadamu mengenai budi pekerti yang inin engkau teladani.”
“Aku tidak berbohong Muthi’ah, sungguh Rasulullah yang mengatakan demikian. Terimalah berita gembira ini dengan penuh syukur. Ceritakanlah padaku tentang budi pekerti mu yang utama itu”
Muthi’ah masih terperangah mendengar berita itu tapi tetap berfikir. Sementara itu, Fatimah secara tak sengaja melihat sebuah rotan, sebuah kipas dan sehelai handuk kecil di ruangan itu.
“Untuk apa ketiga benda ini Muthi’ah?” Muthi’ah pun tersenyum malu.
“Ah, aku malu menceritakannya kepadamu Fatimah”
“Ceritakanlah, mungkin ketiga benda ini yang menjadi kunci keutamaan dirimu seperti yang dikatakan Rasulullah”
Muthi’ah pun bercerita “ Engkau tahu, Fatimah, suamiku bekerja keras untuk membiayai kehidupan kami sehari-hari. Maka aku sangat saying dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang dari bekerja,segera kusambut kedatangannya , kubuka bajunya dank u lap tubuhnya dengan handuk kecil ini hingga kering.  Kemudian ia berbaring di tempat tidur untuk melepaskan lelah. Maka aku mengambil kipas itu kemudian dengan kasih saying ku kipasi tubuhnya hingga hilang lelahnya atau tertidur pulas”
“Sungguh luar bias pekertimu Muthi’ah.” Dengansegera ia menyadari bahwa ia tidak pernah melakukan hal demikian untuk suaminya,Ali Bin Abi Thalib.  “Lalu apa fungsi sebuah rotan itu Muthi’ah?”
“kemudian aku berpakaian semenarik mungkin karena aku tahu bahwa laki-laki itu senang sekali melihat istrinya berpakaian menarik untuknya. Itu menjadi salah satu daya tariksuami untuk betah tinggal di rumah. Setelah ia bangun dan mandi, aku menyiapkan makanan untuknya. Setelah semua selesai,aku berkata “ Suamiku, bilamana pelayananku sebagai istri dan masakanku tidak berkenan di hatimu, aku bersedia menerima hukuman darimu dengan ikhlas. Silakan pukul aku dengan sebilah rotan ini dan sebutlah kesalahanku itu agar tak kuperbuat lagi selanjutnya. “
“Seringkah engkau dipukuli dengan rotan ini?” Selidik Fatimah
“Tidak pernah. Bukan rotan ini yang diambilnya tapi tubuhku yang ditarik dan didekap dengan penuh kemesraan. Itulah bagian dari kebahagiaan kami sehari-hari”
“JIka demikian, sungguh luar biasa Muthi’ah. Luar biasa. Benarlah ayahku mengatakan bahwa engkau memiliki budi pekerti yang baik”

Subhanallah, semoga kita bisa menjadi seperti Muthi’ah.. Amin Ya Rabb!! 
Dan sepertinya mulai hari ini, nama hijrahku adalah Muthi’ah.. hhehe  ^_^
*Disadur dari: Engkau Bidadari Dunia Akhirat

4 komentar:

tikjie mengatakan...

wah terkesan bgt dengan kisahnya, smoga q dpt bidadari yg sprti ini.. ^_^

fauziah_azzahra mengatakan...

iya,, Aminn.. !! ^_^
Dan semoga kanda jg bisa jd bidadara yang baik buat bidadari nya.. heheh :)

Anonim mengatakan...

Masyaallah..
wanita yang berjiwa bidadari...

Anonim mengatakan...

apa mash ada wanita seperti Muthi'ah.. ??

Posting Komentar