19 Oktober setiap tahunnya dikenal sebagai hari jadi Propinsi Sulawesi Selatan (walaupun tak semua orang Sulsel mengenelnya, termasuk saya yang baru tahu pada tahun ini, ironis memang padahal tahun 2010 usia sulsel genap 341 tahun J) . nah, mengapa saya tahu, bukan tanpa alasan. Bisaanya untuk peringatan nasional tingkat daerah, seperti ini apalagi akan dihadiri oleh bapak presiden yang terhormat dan sangat ingin dihormati, maka dipasang spanduk2 ,stiker dan baliho. Tujuannya agar setiap warga mengetahui hari jadinya sekaligus ikut serta mendukung suksesnya peringtan tersebut. Nah, dari situlah saya tahu. Tapi, tak seperti bisaanya yang stiker2 semacam itu, yang paling sering kujumpai di pete2, hanya ku baca sepintas lalu, kemudian dilupakan, di baca lagi stiker yang sama di pete2 yang lain, kemudian dilupakan lagi, pesan tersebut hanya tersimpan di memori jangka pendek. Setelah itu, selesai, titik. Tapi kali ini lain, saya mengamati stiker itu seluruhnya,mulai dari gambar, logo, penulisan dan intinya adalah pesan didalamnya, saya membacanya dengan senyum2, sambil fikiran ini sibuk berangan-angan, berkhayal dan berharap. Ada apa dibalik itu semua?
2 bulan yang lalu, ketika ternyata rezki ditempat ini pertama kali menyapaku. Seorang kawan, sebut saja namanya Akil (bukan nama samaran, -Red. J) memberitahukan tentang suatu lomba karya ilmiah yang dilaksanakan oleh balitbangda sulsel. Sebatas itu saja pemberitahuannya dan selengkapnya saya disuruh mengunjungi situs www.balitbangda-sulsel.go.id . kebetulan waktu itu, pulsa modem masih mencukupi, maka iseng saja ku telusuri situs tersebut. Setelah beberapa menit berkeliaran didalamnya maka berhasil sudah saya mendownload brosur tentang lomba karya ilmiah yang dimaksud, ku baca perlahan tapi belum menyeluruh, tiba2 mataku tertuju pada label Hadiah Pemenang “wah..” gumamku dalam hati,hadiahnya begitu mengoda setidaknya itu menurutku. Waktu itu saya sempat bingung karya apa yang layak untuk saya masukkan, sejenak befikir dan akhirnya penelitian untuk tugas akhirpun jadi sasaran. DEDAK PADI. Pemikiran tak berakhir sampai disitu. Keraguan muncul seketika, hasil penelitian yang sejenis sudah pernah saya ikutsertakan pula dalam suatu ajang kompetisi dikampus, bahkan hanya bersaing dengan orang2 d fakultas, dan tanpa persentase. tapi tak sedikitpun mendapat tanggapan, dalam artian judul yang ku ajukan masih kalah jauh dengan yang lain. Tapi, memang kalau rezki takkan kemana, akhirnya dengan memodifikasi judul yang bisa memperlihatkan kemanfaatan dari penelitian ini, maka dengan mantap ku pilih “pemanfaatan dedak padi dalam formulasi sediaan krim sebagai upaya pencegahan terhadap penuaan dini kulit” sebagai judul karyaku. Setelah menetapkan judul karya, ditengah kesibukan menyusun skripsi, berhari-hari ku poles isi skripsi, kugabung dengan hasil penelitian kawan seperjuangan, maka terbitlah setumpuk kertas tak lebih dari 60 lembar, yang orang menyebutnya karya ilmiah dan inilah yang akan kukirimkan ke alamat yang tertera pada brosur. Di batas akhir pengumpulan, 31 Agustus 2010, dengan modal nekad, dan untuk pertama kalinya saya memasuki kantor gubernur, seorang diri pula, pada seorang satpam ku tanyakan gedung Balitbangda, ternyata letaknya di ujung barat, sudut pula, sementara saya masuk dari gerbang di ujung timur, maka dengan sepenuh hati kulangkahkan kaki ku, tak kurang dari 5 orang yang kutanyai akhirnya ketemu juga tempatnya. Sesamapai diruangan, saya mengumpulkan karya pada seorang pria botak berperawakan serius dengan kacamata tertahan dikedua daun telinganya dan sebuah cincin berwarna emas melingkar di jari kelingkingnya, tapi ramahnya minta ampun, kutaksir umurnya belum 40 tahun. Belakangan ku ketahui namanya pak Ridwan. Beliaulah yang mungkin sebagai ketua panitia lomba ini, hanya sebagai tim administrasi atau entahlah apapun jabatannya saya tidak ambil pusing J
Hari-hari berlalu dengan penantian yang cukup panjang dengan berH2C, -Harap Harap Cemas-, maka, tanggal 4 Oktober 2010, yang dalam brosur disebutkan bahwa tanggal tersebut pemenangnya akan dihubungi langsung oleh pihak panitia. Saya bahkan sudah lupa dengan tanggal itu, tiba2 ada telfon dari pak Ridwan memberitahukan bahwa karya yang kumasukkan masuk 10 besar, Alhamdulillah. Saya disuruh ke kantor esok harinya untuk mengambil jadwal persentase. Dengan penuh semangat saya datang lagi tapi kali ini saya masuk di pintu gerbang sebelah barat yang lebih dekat untuk menjangkau gedung balitbangda, tidak seperti hari kemarin dimana saya harus berjalan cukup jauh (Cukup jauh untuk kategori berjalan sendirian ditempat yang baru pertama kali dikunjungi J). Maka seperti kemarin, saya menemui pak ridwan dalam keadaan beliau yang sama yaitu duduk dimeja kerjanya dan didepannya sebuah laptop berwarna merah dengan logo klub sepak bola asal Inggris, sedang beropersi. Maka dengan senyumnya yang Nampak pudar, beliau menyerahkan undangan yang berisi jadwal perentase kepada semua yang karyanya terpilih ke dalam kategori 10 besar terbaik –menurut dewan juri- . dengan saksama, kubaca nama-nama yang akan persentase itu, hatiku menciut seketika, diluar dugaannku, ajang kompetisi ini kufikir hanya diikuti oleh kalangan sejenis ku saja atau dekat2 lah -Mahasisawa S1 yang belum selesai - . mataku membelalak melihat serentetan nama di jadwal itu, nama dan judulnya, bagus-bagus, penulisnya? Jangan ditanya 3 orang bergelar Doktor (S3), 2 orang bergelar Master (S2), 1 orang sarjana (S1) dan yang lainnya tak ada gelar tertulis di namanya tapi saya tahu mereka minimal seorang sarjana, sebut saja senior ku,yang sudah tercatat sebagai seorang dosen di sebuah Universitas swasta terkemuka di Makassar,beliau pun tak menuliskan S.Si, Apt di belakang namanya. Maka saya pasrah saja pada keadaan, saya membesarkan hati “walaupun tidak menang, setidaknya ada sedikit pengalaman yang bisa ku dapatkan”
Dua hari setelah mengambil jadwal, merupakan waktu persentase yang ditetapkan bagi saya,-tim kami, karena saya mengkikutsertakan nama seorang kawan dalam lomba ini- kami datang 15 menit sebelum waktu yang ditetapkan, dari luar saya mengamati ruangan tempat persentase berlangsung, Masya Allah, jantungku ber-dag dig dug hebat, dari luar ruangannya tampak bagaikan ruangan eksekusi bagi seorang terpidana mati, mengerikan, seperti ruang gelap, tak satupun cahaya yang menembus keluar ruangan, dan hanya ruangan itu, tidak dengan ruangan lainnya yang cahaya lampunya terpancar keluar yang memberikan kesan hidup. Persentase dilakukan satu2 sehingga peserta yang satu tak saling melihat “penampilan” peserta yang lainnya, ini yang membuatku sedikit lega, biarlah dewan juri yang menilainya. Maka diruangan itu, ditempat eksekusi, Terjadilah “pembantaian” sengit, antara kami dan dewan juri, seolah tanpa putus sebelum waktu 30 menit lah yanh memutukannya, maka kami keluar dengan lega, tersenyum, tertawa, menertawakan keluguan kami sendiri,. Ah, rasanya tidak mungkin kami masuk 4 besar,menjawab saja nda mantap, terkesan asal-asalan. Hidup perlu dinikamati, kawan, kita menunggu saja dan berdoa mana yang terbaik buat kita.
Sehari sebelum hari ini, 18 Oktober 2010,kami diundang lagi ke kantor, setelah di hitung2,sudah 5x saya ketempat ini, di gedung balitbangda sulsel menyangkut hal yang sama, karya yang kumasukkan. Maka baru hari itu juga saya tahu kalau karya yang kumasukkan, ternyata lolos 4 besar, senang bukan kepalang, sesuatu yang memang diharapkan tapi tak terduga ternyata terwujud, Alhamdulillah, kekuatan sebuah doa, inilah bagian dari rezki Allah. Walaupun hanya juara IV, saya sangat bersyukur.
Hari ini, 19 Oktober 2010 saya duduk di atas panggung upacara peringatan hari jadi sulsel menyaksikan langsung pidato bapak Gubernur dengan santai ditemanai sekotak kue sementara pegawai2 dikantor gubernur berpanas-panas ria dilapangan. Dan setelah sertifikat diberikan, ditempat ini, saya lega, ternyata semua orang memang pantas menang, setiap orang punya hak untuk sukses, tak harus berpengalaman seperti Lismayana S.Pd sang juara I yang telah memenangkan berbagai lomba karya ilmiah sejak 2008 lalu, atau yang berpendidikan tinggi seperti Pak DR. Ir. Andi Aladin,MT juara II dan DR.Mahbuddin Sang Juara III, dan peringkat IV seorang gadis lugu yang belum selesai kuliah dan tak memiliki pengalaman apapun di dalam memenagkan suatu kompetisi di masyarakat luas.
Saya ingat ketika teman saya itu memberikan dukungan penuhnya “kita nda tahu rezki ta’ ada di situ. Kasih masuk saja setidaknya ada yang ditunggu, kalau tidak, kan nda ada juga yang ditunggu” . intinya adaah berani mencoba, dan tak ada maksud untuk angkuh tapi ada semacam energy positif yang mengalir bersama aliran darahku dan membuka mata untuk lebih kreatif.
_Selamat Berkarya _
^_^
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar